Tradisi Suku Tengger

Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo ini merupakan ritual yang dilakukan setahun sekali untuk menghormati Gunung Brahma (Bromo) yang dianggap suci oleh penduduk suku Tengger yang mendiami wilayah Jawa Timur.

Upacara di Pura Luhur Poten

Upacara ini bertempat di Pura Luhur Poten yang berada di bawah kaki Gunung Bromo Utara dan dilanjutkan ke Puncak gunung Bromo. Upacara ini diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (bulan kesepuluh) menurut penanggalan Jawa, sekitar bulan Desember/Januari menurut penanggalan Masehi.

Makna kata Kasodo sendiri dari kata “kasada”, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Tengger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo.  Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger berharap panen yang berlimpah, meminta tolak bala, atau kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya menuruni tebing kawah untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Upacara Kasodo yang kita kenal sekarang ini merupakan cerita rakyat yang berkembang dari sebuah cerita dari seorang pemuda bernama Jaka Seger yang meminang pemudi cantik, Rara Anteng (Tengger adalah gabungan nama keduanya). Rara Anteng adalah anak dari Raja Brawijaya yang kala itu sedang berkuasa, sekitar abad ke-14. Mereka menikah dan hidup bahagia sampai suatu saat bosan karena tidak kunjung diberikan anak. Maka pergilah mereka ke Gunung Bromo untuk berdoa pada dewa agar mereka diberikan anak.

Doa mereka dapat terkabul dengan syarat anak terakhir yang lahir harus dikorbankan ke dalam kawah Gunung Bromo. Mereka setuju. Rara Anteng pun hamil dan melahirkan 25 orang anak. Dengan berat hati mereka merelakan anak yang ke-25 untuk mengobankan nyawa demi keselamatan nyawa penduduk akibat Gunung Bromo “marah” karena janji Jaka Seger dan Rara Anteng belum juga ditepati.

Setelah pengorbanan anak yang ke-25 itu, terdengar suara anak tersebut dari kawah Bromo. Suara  anak itu meminta dirutinkannya persembahan setiap hari ke-14 di bulan Kasodo. Persembahan tahunan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal upacara Kasodo. Dua puluh empat anak Rara Anteng dan Joko Seger tersebut yang kemudian menjadi nenek moyang penduduk Tengger yang sekarang.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s